KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Air Bah Susulan Sewaktu-Waktu Bisa Mengancam

Posted by Administrator pada Maret 28, 2009

[ Jawa Pos,  Sabtu, 28 Maret 2009 ]
DEPARTEMEN Pekerjaan Umum (DPU) memastikan tidak bisa menutup tanggul Situ Gintung yang jebol Jumat dini hari kemarin. Perbaikan tanggul yang jebol baru bisa dilakukan setelah danau 21 hektare itu kering.

Saat ini air di waduk diperkirakan separo dari daya tampung waduk sekitar 20 juta meter kubik. Karena tanggul jebol dan diperkirakan masih akan hujan, sewaktu-waktu air dari danau kembali meluap ke permukiman.

”Sekarang kondisi tanggul masih labil dan tanggul yang jebol cukup panjang sehingga tidak memungkinkan penanganan langsung,” ujar Kepala Balai Besar Sungai Cisadane dan Cidurian DPU Joko Suryanto dalam paparan di hadapan Wapres Jusuf Kalla di Rumah Makan Situ Gintung, Cirendeu, Tangerang, kemarin (27/3).

Rapat dihadiri Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri PU Djoko Kirmanto, dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Darpito. Rapat digelar sekitar pukul 10.00, setelah Kalla meninjau posko kesehatan di STIE Achmad Dahlan di Ciputat.

Joko menambahkan, tanggul Situ Gintung jebol sekitar 70 meter dari total 245 meter. Menurut analisis sementara, jebolnya tanggul disebabkan jumlah air di waduk sangat besar akibat hujan deras beberapa hari terakhir.

Jumlah air yang ditampung waduk sedalam lima sampai tujuh meter itu melebihi air yang bisa dibuang melalui saluran pembuangan (spill way) ke Kali Pesanggrahan. Akibatnya, air menekan tanggul di sekitar spill way. Tekanan yang sangat tinggi tidak mampu ditahan konstruksi tanggul yang hanya terbuat dari tanah dan batu. Akhirnya, tanggul yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada 1933 tersebut retak-retak dan akhirnya jebol.

”Bisa dibayangkan daya rusak sepuluh juta meter kubik air keluar sekaligus ke permukiman yang berada 25 meter di bawah tanggul,” ujar Kalla menanggapi presentasi dari DPU.

Direktur Waduk DPU Widagdo mengatakan, pihaknya akan melakukan tanggap darurat penanganan longsoran tanggul dan pemantauan kondisi muka air di Situ Gintung hingga muara Kali Pesanggrahan.

Widagdo menambahkan, tanggul baru tetap akan jebol bila saluran air dari waduk tidak memadai. Karena itu, pihaknya harus membuat saluran pembuangan yang baru setelah air di waduk dikeringkan. ”Sementara akan dibuat saluran air dari kawat, batu, dan pasir. Jadi, air tetap bisa mengalir, tekanan di tanggul berkurang, dan tanggul tidak jebol lagi,” katanya.

Wapres Jusuf Kalla lantas memerintah PU membuat kajian menyeluruh sehingga tanggul dan spill way yang baru lebih aman.

Djoko menambahkan, perbaikan Situ Gintung harus disiapkan secara matang. Pemerintah tidak dapat memulai perbaikan secara darurat. Menurut Djoko, pemerintah akan memanggil tiga pakar dari Jepang dan PPSDA (Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air) DPU dalam memperbaiki danau. ”Sabtu kerja dan minggu depan sudah ada desain yang tepat,” ujarnya. Ditanya berapa dana yang dibutuhkan, Djoko mengaku belum tahu.

Untuk penanganan darurat, kata Djoko, pemerintah menyiapkan bronjong untuk mengganjal dan menahan sekitar lereng yang belum longsor.

Pemerintah Lalai

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nahdian Furqon menyatakan, tragedi Situ Gintung merupakan bukti kelalaian pemerintah. Sebab, tanggul tersebut sudah menunjukkan gejala jebol pada November lalu.

”Saat itu ada kebocoran di tanggul. Itu terjadi karena ada keretakan tanggul. Tapi, saya lupa di bagian mana,” ujarnya.

Namun, kata dia, setelah kebocoran tersebut ditemukan, tidak ada tindak lanjut dari pemerintah. Tanggul itu dibiarkan tanpa diperbaiki. Padahal, ujar dia, kapasitas tanggul terus bertambah hingga jauh dari kapasitas maksimal ketika tanggul dibuat pada 1930-an.

Tanggul tersebut, ungkap Nahdian, sudah jelas berisiko tinggi. Apalagi tak jauh dari tanggul terdapat permukiman penduduk. ”Mestinya kan ada sistem informasi untuk memberi tahu bila ada musibah,” tegasnya.

Karena itu, dia menilai tragedi Situ Gintung lebih banyak disebabkan human error, dalam hal ini pemerintah. ”Pemerintah jelas tahu kemungkinan-kemungkinan buruk itu. Tapi, mereka membiarkan dan lalai,” ungkapnya.

Sementara itu, Cirendeu yang masuk wilayah Tangerang Selatan dianggap kawasan pinggiran Jakarta yang selama ini terkesan kurang diperhatikan pembangunan infrastrukturnya oleh pemerintah pusat maupun daerah. Itu menjadi salah satu bagian dari kurang terawatnya kelayakan Situ Gintung dalam menampung luapan air Sungai Pesanggrahan.

Tangerang Selatan yang meliputi Ciputat (termasuk di dalamnya Cirendeu), Pamulang, Serpong, dan Pondok Aren memang merupakan wilayah baru. Kota tersebut merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Pejabat wali kotanya juga baru dilantik pada 22 Januari 2009.

Meski demikian, Agus Purnomo, anggota Komisi II DPR yang membidangi urusan dalam negeri, mengatakan bahwa persoalan bencana Situ Gintung sebenarnya tidak terkait langsung dengan masalah pemekaran wilayah yang sudah dilaksanakan. “Kalau pemerintah yang belum terkonsolidasi dengan baik, memang iya. Tapi, kalau sepenuhnya karena pemekaran, tidak juga,” ujar anggota dewan asal PKS itu.

Menurut dia, masalah mendasar munculnya bencana tersebut lebih karena faktor teknis. Misalnya, soal rencana umum tata ruang, tanggul, pengelolaan air, dan sebagainya. “Nah, jika begitu, kan tentu tidak secara langsung berhubungan dengan pembentukan pemerintah baru lewat pemekaran,” paparnya.

Sebaliknya, menurut Agus, pemekaran seharusnya bisa memperpendek jarak pelayanan pemerintah dan masyarakat. “Tapi, saya pribadi mendorong agar ada evaluasi, bahkan investigasi, menyeluruh terhadap masalah ini,” tegasnya. (noe/aga/dyn/agm)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: