KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Mereka yang Kehilangan Keluarga di Situ Gintung (1)

Posted by Administrator pada Maret 28, 2009

korban-situ-intung-1[ Jawa Pos, Sabtu, 28 Maret 2009 ]
Selamatkan Anak, Istri yang Sedang Tidur Hanyut

Musibah jebolnya tanggul Situ Gintung di Cirendeu, Kabupaten Tangerang, menyisakan duka bagi banyak keluarga. Mereka kehilangan sanak sudara secara tiba-tiba dalam musibah yang tak pernah diduga itu.

RIDWAN-TITIK A.-AGUNG, Jakarta

ISAK tangis pecah di Ruang Instalasi Forensik dan Perawatan Jenazah RSUP Fatmawati kemarin siang (27/3). Puluhan keluarga korban tak mampu menahan duka ketika satu per satu korban jebolnya tanggul Situ Gintung diturunkan dari ambulans dan digotong ke ruang jenazah.

Suasana menjadi semakin pilu ketika seorang petugas rumah sakit membuka satu per satu kain penutup mayat dan membiarkan keluarga korban melihat. Banyak keluarga korban yang tak kuasa melihat kerabatnya sudah menjadi mayat.

Ada yang menumpahkan tangisnya di sisi mayat yang terbungkus kain. Ada pula yang lebih memilih keluar ruangan karena tak tahan menyaksikan kerabatnya yang telah jadi mayat.

Di antara keluarga korban yang larut dalam kesedihan itu, tampak Aca yang sedang duduk lesu di depan kamar jenazah. Setelah melihat satu per satu mayat korban yang dijajar di lantai, dia langsung keluar. Pria berusia 37 tahun tersebut hanya terdiam. Sesekali dia tertunduk dan memperhatikan sekitarnya.

Ayah dua anak itu mengaku kedatangannya di rumah sakit tersebut tidak untuk mengurus jenazah keluarganya. Tapi, dia sedang mencari istrinya yang hilang ketika air bah menghantam rumah mereka kemarin subuh.

”Di lokasi, saya sudah cari-cari istri saya, tapi nggak ketemu. Tadi ada yang suruh lihat saja di rumah sakit ini,” katanya. ”Makanya saya ke sini. Tapi, di sini juga nggak ada,” lanjutnya.

Pria yang sehari-hari berjualan gorengan itu menjelaskan, Kamis malam (26/3), hujan mengguyur kawasan tersebut. Walaupun demikian, Aca tidak memiliki firasat apa-apa. Ketika sedang tidur pulas bersama istrinya, dia dikejutkan oleh suara keras yang menghantam rumahnya.

Saat itu, dia diingatkan keponakannya untuk lari menyelamatkan diri. Dalam kondisi panik tersebut, Aca pun langsung bergegas menyelamatkan kedua anaknya yang tidur di kamar lain. Saat menyelamatkan kedua anaknya itulah dia kehilangan istri tercinta.

”Pas pukul 04.00 WIB, ada air deras. Suaranya keras banget kayak kapal besar. Rumah saya langsung dihantam. Brak… langsung hancur. Pas itu istri saya langsung hilang,” ungkap pria asal Indramayu tersebut lantas tertunduk.

Hingga pukul 15.00 kemarin, Aca masih belum menemukan istrinya yang bernama Sarina, 30. Setelah memastikan istrinya tidak berada di rumah sakit, pria yang akrab disapa Doyok itu pun pergi.

Nasib nahas juga menimpa Ferry Alamsyah yang hingga kemarin petang masih tergolek lemas di Instalasi Rawat Darurat (IRD) RS Fatmawati, Jakarta. Remaja 13 tahun tersebut juga tak bisa bicara karena masih shock atas kejadian yang menimpa keluarganya.

Ferry termasuk salah seorang korban selamat dalam musibah jebolnya tanggul Situ Gintung. Tubuhnya sempat terseret air sejauh 600 meter, sebelum ditemukan tim penolong dan tetangga saat tersangkut di atap rumah warga.

Memang tak terlalu banyak luka di tubuhnya, selain lecet dan luka gores. Namun, menurut dokter yang merawat, siswa kelas 1 SMP Miftahul Jannah itu sering muntah karena perutnya kemasukan air.

Sobaruddin, sang paman yang menunggui Ferry, menjelaskan, keponakannya tersebut dilarikan ke RS Fatmawati sekitar pukul 11.00 kemarin. Dia kehilangan tiga anggota keluarganya. Sang ibu sudah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Sedangkan ayah dan kakaknya masih hilang.

Satu-satunya anggota keluarga yang selamat dan sudah pulang hanya adiknya, Habibah Wardah. ”Ayah dan kakaknya hingga saat ini belum ditemukan. Kami belum mendapat kabar,” ujar Sobaruddin.

Jarak rumah Sobaruddin dengan rumah Ferry memang tak terpaut jauh. Hanya sekitar 100 meter. Kendati demikian, kata Sobaruddin, dirinya tidak sempat menyelamatkan kerabatnya itu. Maklum, dia sendiri harus menyelamatkan keluarganya.

Dia menceritakan, pukul 04.30, dirinya terbangun dan hendak salat shubuh. Namun, ketika hendak mengambil air wudu, Sobaruddin mendengar suara gemuruh seperti hujan deras. Gemuruh suara air itu lama-kelamaan semakin keras dan dekat. Tak berapa lama kemudian, air bah menerjang rumahnya. Sobaruddin mengaku terkesiap. ”Saya seperti melihat tsunami yang di TV-TV,” jelasnya.

Sobaruddin pun buru-buru mencari ibunya. Dia langsung masuk kamar dan meraih tubuh ibunya. ”Untung rumah saya agak lebih tinggi dibanding rumah si Ferry. Saya langsung bawa keluarga ke luar rumah,” ujarnya.

Dia mengaku sempat panik. Betapa tidak, teriakan minta tolong seolah datang dari berbagai penjuru. Sementara dia menyaksikan para tetangganya terseret arus. Rumahnya sendiri dalam hitungan detik roboh separo. ”Saya hanya melihat sebentar karena semua kejadian berlangsung cepat. Saya tak sempat menyelamatkan barang-barang berharga,” ungkapnya.

Setelah bisa menggapai tempat yang lebih tinggi, Sobaruddin ditolong penduduk sekitar dan tim SAR. Ibunya langsung dibawa ke posko. Kemudian, dia memastikan keselamatan keluarganya. Yaitu, nenek, kakak, serta keponakannya.

Setelah itu, dia baru teringat kerabat dekatnya. Sobaruddin pun langsung mengecek kerabatnya tersebut. Setelah lama mencari, dia menemukan keponakannya, Ferry, tersangkut diatap rumah tetangga. ”Sebelumnya dia sempat terseret arus. Kasihan dia nangis terus kalau teringat kejadian tersebut,” katanya.

Tak berapa lama setelah itu, dia menemukan adik Ferry, Habibah. Lantaran kondisi kesehatannya terlihat memburuk, tim SAR melarikan mereka ke RS Fatmawati. ”Ibu Ferry tidak tertolong dan meninggal,” ujarnya.

Sementara itu, kakak kandung Sobaruddin alias ayah Ferry juga belum ditemukan. Kondisi Ferry sendiri sudah berangsur-angsur pulih. ”Setelah dicek dokter, dalam tubuhnya tidak apa-apa. Tapi, dia mual-mual dan muntah terus. Mungkin stres karena masih trauma,” tutur pria berusia 35 tahun itu.

Saat ini, Sobaruddin fokus mencari sanak keluarganya yang masih hilang. Menurut dia, keselamatan mereka lebih penting ketimbang harta mereka yang hancur terbawa arus. Hingga pukul 18.00, di IRD RS Fatmawati masih tersisa empat pasien. Dua pasien masih tergeletak lemah dan tidak bisa ditanya. Sementara 20 pasien telah dinyatakan meninggal dan dibawa pulang keluarganya.

Korban lain yang masih trauma adalah Kamisah, 57. Sang korban bahkan hanya terdiam. Dia tidak mampu berkata-kata dan terlihat shock. Apalagi, perempuan tua itu sudah lama mengidap penyakit jantung. Musibah tersebut memperparah kondisinya. Kamisah pun menolak diwawancarai. ”Ibu masih shock,” ucap Yanti, sang anak.

Menurut dia, peristiwa pahit tersebut menyisakan kegetiran mendalam. Betapa tidak, air yang datang tiba-tiba itu meluluhlantakkan rumahnya. ”Rumah kami rata dengan tanah. Semua perabot dan harta tidak tersisa,” ungkap Yanti. Wajah Kamisah maupun Yanti terlihat letih. Rambut Kamisah bahkan terlihat acak-acakan.

Memang, kata Yanti, kondisi Kamisah sudah berangsur membaik. Kendati demikian, dia tidak banyak ngomong. ”Saya sempat khawatir atas kondisi ibu. Apalagi, ibu punya penyakit jantung,” ujarnya.

Saat musibah tersebut berlangsung, Yanti sedang menunggu sang ibu. Ketika itu, dia mendengar suara hujan dan angin bertiup kencang. Tak berapa lama setelah itu, air menerjang rumahnya. ”Pintu langsung jebol. Ketika itu, kami pikir ada banjir, bukan tanggul jebol. Saya langsung menyelamatkan ibu,” tuturnya. Beruntung, beberapa orang dengan sigap menolong keluarga Yanti. Kelima anggota keluarganya pun selamat.

Bukan hanya rumahnya, cukup banyak tetangganya yang bernasib nahas. Mayoritas rumah di Kampung Gintung, Desa Cirende, Ciputat, itu telah hancur. ”Banyak yang tinggal puing saja,” ujarnya. Setelah berhasil diselamatkan dan dibawa ke posko, kerabat dekatnya langsung membawa mereka ke RS Fatmawati.

Rumah Kak Seto Jadi Korban

Beberapa tokoh yang tinggal di sekitar tanggul ikut menjadi korban. Mereka, antara lain, pengamat musik Bens Leo dan Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi. Rumah lelaki yang akrab dipanggil Kak Seto itu berada di Kompleks Perumahan Cirendeu Permai Blok A4 No 13.

Seto menuturkan, saat kejadian, dirinya sedang berada di luar kota. Yang ada di rumah adalah istri bersama empat anaknya, saudara, pembantu, serta beberapa staf. ”Tidak lama setelah kejadian, anak saya menelepon. Dia memberitahukan adanya musibah tersebut. Semua panik karena banjir datang tiba-tiba,” jelasnya.

Kejadian itu begitu cepat. Menurut Seto, saat itu Budiharjo, kakak sulungnya, sedang salat subuh. Setelah itu, tiba-tiba pembantunya berteriak ada banjir. ”Kejadiannya sangat cepat. Hitungannya detik. Baru teriak, tiba-tiba air datang dan menyambar semuanya,” katanya.

Dia menyatakan, saat ini keadaan rumahnya berantakan. Kaca-kaca pecah dan banyak perabot rumah tangga yang hancur. Bahkan, empat mobil miliknya yang diparkir di garasi terseret hingga ke taman beberapa meter dari rumahnya.

Mobil tersebut adalah Suzuki Swift, Honda Jazz, Kijang Innova, dan Toyota Avanza. Yang paling parah adalah Kijang Innova. Mobil itu sampai nyungsep ke taman hingga bagian belakangnya terangkat. Sementara itu, satu mobil KIA Pregio yang digunakan untuk kelas keliling ikut terendam.

Sebagian besar dokumen pun hancur. Sebab, aliran deras ikut membawa lumpur dan merendam seluruh rumah. ”Semua dokumen saya hancur. Dokumen klien, konsultasi, dan mediasi musnah semua. Kalau dokumen Komnas Perlindungan Anak, untungnya nggak. Saya kebetulan tidak menyimpannya di rumah,” katanya. (dilengkapi tim Indo.Pos/jpnn/nw)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: