KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Mereka Yang Kehilangan Orang Terkasih di Situ Gintung (2)

Posted by Administrator pada Maret 29, 2009

siu-gintung-3[ Minggu, 29 Maret 2009 ]
Bapak Empat Anak Jadi Sebatang Kara

Dalam kondisi terdesak, apa pun dilakukan untuk menyelamatkan diri. Itu pula yang dilakukan para korban terjangan air Situ Gintung. Mereka berpegangan apa saja yang bisa diraih untuk mempertahankan nyawa satu-satunya itu.

RIDWAN – TITIK, Jakarta

Wajahnya pucat, pelipisnya ditambal perban tebal. Dadanya luka-luka. Kaki kirinya juga diperban karena tersayat. Napasnya masih tersengal-sengal. “Saya belum bisa makan, Mas. Ini cuma air putih yang masuk. Kalau roti atau nasi, langsung muntah,” ujar Taryono, 45, di pos pengungsian Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Staf tata usaha STIE Ahmad Dahlan tersebut lantas kembali memeluk anaknya, Reza Brahma Putera. “Saya tidak ingin melepaskan lagi. Ora bakal,” ujar pria asal Sragen, Jateng, yang sudah 11 tahun tinggal di ibu kota itu.

Saat tsunami Situ Gintung datang, Taryono belum tidur. “Saya biasa bangun untuk salat Tahajud jam dua malam, lalu wiridan,” ujarnya. Baru saja hendak mengambil sajadah untuk salat jamaah Subuh di masjid, dia mendengar suara teriakan.

“Saya kira maling,” katanya. Daerah Jalan Haji Juanda di samping gedung rektorat UMJ memang sering disatroni pencoleng. Sebab, meski antarrumah warga berdekatan, kompleks itu dekat dengan jalan raya. Itu memudahkan pencuri melarikan barang. “Beberapa kali di sini memang sering kecurian,” tambahnya.

Karena itu, begitu mendengar teriakan, bukan sajadah yang diambil Taryono, melainkan kunci Inggris. “Sarung saya sampirkan, pakai celana pendek, langsung keluar rumah,” katanya.

Namun, tak ada siapa-siapa di halaman. “Saya toleh kok nggak ada orang. Malah terdengar suara gemuruh. Seperti angin kencang itu,” ujar Taryono. Dia lantas kembali masuk rumah.

“Saya baru masuk, langsung air datang. Saya pegangan kasur, rumah langsung jebol. Saya teriak Reza.. Reza.. Reza,” katanya. Putra semata wayangnya, Reza Brahma Putera, yang sedang tidur dia raih. Tapi pegangannya lepas.

Taryono terdiam. Matanya menerawang. “Saya pasrah, Mas. Kebetulan kasur itu baru saja saya beli. Selama ini jarang pakai kasur busa. Saya pakai yang biasa. Karena baru beli, kasur itu masih saya taruh di ruang tamu,” katanya.

Tubuh Taryono terbawa arus. Dia berpegang erat pada kasur busa itu dan menabrak apa saja yang dilewati. “Saya sadar sepenuhnya. Hanya berzikir. Allah, Allah, ” kata Taryono.

Dia selamat setelah badannya tertumbuk nisan makam di belakang STIE Ahmad Dahlan. “Saya minum air banyak sekali. Jadi, coba saya muntahkan pakai jari,” katanya sambil memasukkan telunjuknya ke mulut.

Tanpa baju dan celana compang-camping, Taryono tertatih-tatih mencari istri dan anaknya, Reza. “Saya seperti orang gila. Ngguling, ngguling nggak karuan,” katanya. Frustrasi Taryono semakin bertambah saat melihat rumahnya habis tanpa sisa. “Entek gusis Mas. Ra ono wujude blas (Habis tanpa sisa, Red),” tambahnya.

Sejak pukul 6 pagi dia bingung. Matanya nanar. “Bumi seperti berputar,” katanya. Dia baru bertemu anaknya pukul 11 siang. “Wahyudi, anak Menwa yang kos di samping rumah, menggendong Reza. Hati saya lega sekali. Mak nyes rasanya,” ujar Taryono.

Reza yang berusia 11 tahun masih tampak pucat. Dia selamat setelah bisa meraih pohon duku di dekat rumah. “Aku manjat sampai atas. Aku lihat airnya,” katanya patah-patah.

Pohon itu akhirnya juga hanyut dan tak kuat menahan dua juta kubik air yang menerpa terus-menerus. Tapi, Reza tetap selamat karena pohon itu tertahan sebagian reruntuhan tembok kantor rektorat UMJ. “Aku digendong Mas Yudi dari sana,” jelasnya.

Meski sudah bertemu anaknya, Taryono belum lega benar. Dia baru benar-benar tenteram saat melihat istrinya tergolek lemas di posko. “Sekarang kami masih mikir adik-adik kami yang belum ketemu,” katanya.

Adik iparnya, Sukamto dan istrinya Ratna Megawati tinggal tepat di samping rumah. “Ada tiga rumah yang berjejer. Si Kamto itu baru dua bulan lalu menikah,” kata Taryono.

Meski terkena musibah berat, Taryono mengaku siap melanjutkan hidup. “Tadi, ada Pak Din (Din Sjamsuddin, ketua umum PP Muhammadiyah) yang menengok. Beliau bilang kalau Allah sedang sayang sama kami. Insya Allah, kami akan mulai lagi pelan-pelan,” katanya.

Kisah kehilangan anak juga dialami Zaenuddin. Berpegang erat pada kaki meja makan, tukang servis barang elektronik itu selamat meski terbawa arus hingga perbatasan Kali Pesanggrahan. “Anak saya dua-duanya selamat. Tapi, sekarang masih shock,” ujarnya saat ditemui di pos evakuasi resimen mahasiswa UMJ.

Dia mengaku punya firasat akan bencana sejak hujan angin disertai es mulai pukul 20.00 Kamis (26/3). “Saya menyesal karena sebenarnya sudah akan pindah rumah. Tapi, ya bagaimana lagi, namanya musbah.”

Zaenuddin yakin selamatnya dua anaknya itu mutlak kuasa Tuhan. “Itu mesti malaikat Mas. Mereka masih enam tahun dan 11 tahun. Kalau dipikir, yang dewasa saja banyak yang tidak selamat,” katanya.

Kepiluan berlipat-lipat juga dialami Oscar Anwar. Jumat dini hari itu, Oscar bertugas di Semarang. Sedangkan istri dan keempat anaknya tinggal di rumahnya di Cirendeu, dekat Situ Gintung. Dia tidak tahu bahwa dini hari itu seluruh anggota keluarganya tengah berjuang menghadapi terjangan air yang lepas dari Situ Gintung. Oscar sendiri baru mengetahui musibah tersebut dari adiknya, Wiwin, yang meneleponnya.

Begitu diberi tahu, karyawan senior TVRI itu langsung pulang dan menuju Rumah Sakit Fatmawati Jakarta. Dia langsung shock mengetahui empat anaknya telah tewas dan tergolek di kamar mayat RS tersebut. Mereka adalah Reigen Oktian, 26; Yogi Andika Nugraha, 22; Fani Oktaviani, 16, dan Alviana Khoirun Nisa, 13. ”Mereka semua kena,” ujar Wiwin.

Oscar memiliki dua rumah, yakni di Kompleks Kunciran Emas Permai, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang dan Cirendeu, Tangerang Selatan. Karena dua anaknya kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), keluarganya tinggal di Cirendeu yang memang dekat kampus. Lalu rumahnya di Kunciran Emas Permai ditempati adiknya, Wiwin.

Setelah menjalani proses identifikasi, jenazah keempatnya dibawa pulang ke Perumahan Kunciran Emas Permai, Kota Tangerang. Keluarga dan tetangga silih berganti berdatangan memberi ucapan belasungkawa. Begitu pula kolega dan atasannya di TVRI.

Oscar sendiri tampak sangat shock. Saat kolega dan tetangga memberi ucapan belasungkawa, dia lebih banyak diam. Begitu pula setelah jenazah keempat anaknya dimasukkan liang lahat di pemakaman Kunciran Emas. Dia seakan tak mau beranjak dari pusara anaknya.

Wiwin juga tak mau bercerita banyak tentang musibah yang menimpa keluarga kakaknya. “Maaf, saya belum bisa berkomentar,” ujarnya.

Begitulah musibah. Sehari sebelumnya, keluarga Oscar masih lengkap enam orang. Tapi, hanya dalam hitungan jam, dia sudah menjadi sebatang kara. Sebab, hingga tulisan ini diturunkan, nasib istrinya yang juga ikut hanyut, belum diketahui.

Suatu musibah tak jarang juga menyisakan keajaiban. Kaesan, bayi sebelas bulan, bisa selamat dari terjangan air bah Situ Gintung. Anak pasangan Ina Anggraeni dan Rizal itu tersangkut di dahan pohon pisang setelah lepas dari dekapan sang ibu.

Menurut Ina, sejak pukul 22.00 (Kamis) tanggul situ tersebut sudah bocor. Lalu sekitar pukul 03.00 air mulai menggenangi permukiman.

“Setelah azan Subuh, terdengar bunyi menggelegar. Kami terkejut dan ternyata tanggul sudah jebol,” ungkap Ina sambil menangis tersedu-sedu.

Ketika mendengar gemuruh air, Ina langsung mendekap anaknya dan berusaha menyelamatkan diri. Namun, air datang begitu cepat. Ina dan sang bayi beserta suami terseret arus deras setinggi tujuh meter bersama rumahnya. Karena arus air sangat deras, sang bayi terlepas dari dekapannya.

“Anak saya terseret kemudian tenggelam selama sekitar lima belas menit. Namun, untung dia tersangkut di pohon pisang dan langsung diselamatkan ayahnya,” tambah Ina.

Meski bayinya selamat, Ina masih sedih. Sebab, sang ibu menjadi korban. Sementara ayahnya hingga kemarin belum ditemukan. (dilengkapi Tangsel Pos/jpnn/nw)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: