KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Kali Kelima, Warga Tewas di Praktik Ponari

Posted by Administrator pada Maret 30, 2009

[ Jawa Pos, Senin, 30 Maret 2009 ]
JOMBANG – Daftar warga yang meninggal di lokasi praktik dukun cilik Ponari di Dusun Kedungsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, bertambah lagi. Setelah pembukaan praktik sekitar dua pekan lalu, seorang pemuda yang menunggu pengobatan di rumah salah satu warga, mendadak meninggal dunia Minggu dini hari (29/3).

Korban tewas kelima itu adalah Nurul Cahyono, 17, warga Pakem, Kabupaten Bondowoso. Saiful, paman korban, saat ditemui Radar Mojokerto (Jawa Pos Group) di kamar jenazah RSD Jombang, sekitar pukul 01.30 kemarin mengungkapkan, saat akan masuk SMP Nurul mendadak sakit panas. Sakit itu pun berujung pada kelumpuhan. Berbagai upaya pengobatan yang dilakukan keluarga korban belum juga membuahkan hasil.

Keluarga akhirnya mencoba pengobatan dengan metode celup batu Ponari. Sekitar sebulan lalu, Arnito, 46, ayah korban, mengirim tembakau ke kawasan Nganjuk. Karena sudah mendengar soal pengobatan Ponari buka lagi, Arnito mampir ke Dusun Kedungsari untuk minta air ke bocah lugu kelas III SD itu untuk sang putra.

Saat itu, ketika diberi minum dan diolesi air Ponari, sebetulnya tidak ada hasil yang signifikan. Namun, bukti nyata tidak bergunanya meminum air dari celupan batu Ponari itu tidak kunjung membuat keluarga sadar. ”Kami memutuskan berobat lagi, dengan membawa korban agar bisa ditangani langsung oleh Ponari,” ungkap Saiful.

Dengan mobil pribadi, keluarga ini tiba di Dusun Kedungsari Sabtu (28/3) sekitar pukul 19.00. Karena praktik Ponari sudah tutup, rombongan kecil itu lalu numpang menginap di rumah salah satu warga, tak jauh dari kediaman Ponari. Rombongan itu berisi lima orang. Arnito, Kusnah, Saiful, Nurul, dan satu orang kerabat lagi.

Mereka berencana menunggu praktik Ponari buka pada Minggu pagi. Tetapi, baru tiga jam beristirahat, sekitar pukul 22.00, tiba-tiba tubuh Nurul kejang-kejang dan sempat tak sadarkan diri. Atas inisiatif tuan rumah, Nurul sempat dimintakan air ke Ponari. Air itu lalu diminumkan sedikit demi sedikit ke Nurul, sambil sesekali dioleskan ke kedua kakinya.

Namun, upaya tak rasional itu malah membuat kondisi Nurul semakin parah. Sekitar pukul 22.45, Nurul mendadak lemas. Keluarga mencoba membawa Nurul ke rumah sakit, namun sudah sangat terlambat. ”Ia meninggal dunia di tempat itu juga,” ujar Saiful penuh penyesalan.

Tak hanya sang paman, kematian mendadak Nurul itu membuat kedua orang tuanya shock. Kusnah, 43, ibu korban, terus histeris. Sedangkan sang ayah, Arnito, hanya bersimpuh lemas di samping jenazah anaknya. ”Mereka masih shock, tidak bisa ditanyai,” ujar Saiful meminta pengertian wartawan.

Oleh keluarga, kejadian ini lalu dilaporkan kepada petugas Polsek Megaluh. Petugas lalu mendatangi TKP dan mengevakuasi jenazah korban ke RSD Jombang. Di kamar jenazah, tampak sekali penyesalan kedua orang tua korban karena telah memaksa anaknya melakukan perjalanan jauh dalam keadaan sakit. ”Maaf Nak, ibu sudah mengajakmu pergi jauh dari Bondowoso ke Jombang, Nak,” ujar Kusnah sambil sesekali nyaris pingsan.

Meskipun ikhtiar mereka sia-sia dan Nurul meninggal dunia hanya beberapa saat setelah minum air Ponari, keluarga tetap tidak ingin memperpanjang masalah. Kedua orang tua Nurul menolak jasad Nurul diotopsi. Karena itu, setelah visum luar, jenazah dibawa pulang ke Bondowoso.

Kapolsek Megaluh AKP Sutikno mengatakan, dugaan sementara penyebab kematian korban adalah kelelahan. Karena dalam kondisi sakit, dia dipaksakan perjalanan jauh. “Sayangnya, keluarga korban menolak otopsi. Sehingga belum bisa dipastikan, apa penyebab kematian korban. Apakah hanya kelelahan ataukah ada sebab-sebab lain,” ujarnya.

Lalu apa langkah kepolisian setelah jatuh korban jiwa kelima di tempat praktik Ponari, seperti kejadian-kejadian sebelumnya, Sutikno kembali terlihat ragu untuk bertindak tegas. ”Kita tunggu saja perkembangannya,” dalihnya sambil meninggalkan kamar jenazah.

Sejak praktik dukun Ponari dibuka dua bulan lalu, tercatat sudah lima orang tewas. Sebelumnya, empat orang tewas karena berdesak-desakan dan akibat penyakit kambuh. Meski beberapa kali ditutup oleh aparat kepolisian, pihak keluarga Ponari tetap membuka tempat praktik itu. Celakanya, aparat berwenang membiarkan saja keputusan yang terbukti berkali-kali mengundang bencana itu. Setiap hari Ponari diberi kesempatan mengobati sekitar lima ribu pasien yang dimulai setelah Ponari pulang sekolah, sekitar pukul 14.00.

Sementara itu, kemarin praktik pengobatan Ponari berjalan seperti biasa meskipun satu orang pasiennya baru saja meninggal dunia. Lagi-lagi dalih yang sama dilontarkan panitia. “Kami tidak bisa menolak pasien yang ingin berobat kepada Ponari. Kami ini kan hanya membantu memberikan fasilitas kepada pasien yang ingin berobat?” kata Sujain, salah satu panitia pengobatan Ponari, tanpa rasa bersalah. (doy/yr/jpnn/kim)

Satu Tanggapan to “Kali Kelima, Warga Tewas di Praktik Ponari”

  1. ustadsfahrur said

    Bangsa kita memang masih banyak yang berfikir irrasional.Seharusnya kalu berfikir ya harus rasional. Kalau gak rasional masuk aja ke ranah keyakinan.Agama tentunya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: