KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Mereka yang Kehilangan Orang-Orang Terkasih di Situ Gintung (3)

Posted by Administrator pada Maret 30, 2009

situ-gintung-3[ Jawa Pos, Senin, 30 Maret 2009 ]
Kaget, 13 Anggota Keluarga Tewas dalam Sekejap

Tragedi Situ Gintung menimbulkan trauma bagi para korbannya. Tak sedikit dari mereka yang enggan kembali ke rumah karena ketakutan melihat lokasi “pembantaian” anggota keluarganya itu.

NAUFAL WIDI-ANGGIT SATRIO, Jakarta

ROHMAH memeluk erat tubuh saudaranya. Matanya tak kuasa lagi menahan lagi air mata yang terus meleleh. Hatinya lebih tenang dibanding beberapa saat sebelumnya. Namun, saat ada saudara yang lain datang, Rohmah kembali terpukul. Dia kembali menangis sesenggukan.

Ya, Rohmah adalah salah seorang yang amat terpukul atas kejadian jebolnya tanggul Situ Gitung, Jumat (27/3) pagi lalu. Dia kehilangan 13 anggota keluarga besarnya. “Sangat kaget. Nggak menyangka, kejadiannya begitu cepat,” kata Rohmah di penampungan sementara di kampus Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Wajahnya tampak sayu. Kantong matanya yang bengkak menunjukkan wanita 54 tahun itu diliputi kesedihan amat mendalam.

Di kampus itu memang ada dua tempat pengungsian. Yang pertama di lantai dua Fakultas Hukum. Ruang ini adalah tempat tinggal sementara bagi korban yang masih mengalami trauma berat. Mereka yang sudah agak kuat dipindahkan ke tempat yang lebih luas di Fakultas Kedokteran, kampus yang sama.

Di tempat itu, mereka harus rela tinggal seadanya. Mereka hanya mengharapkan uluran bantuan. Di pengungsian itu Rohmah harus berebut kasur dengan pengungsi lain, sekadar untuk mendapatkan tempat yang hangat agar bisa melepas kesedihan.

Rohmah hingga saat ini masih trauma dengan kejadian di pagi buta itu. Bahkan, dia tidak kuat untuk keluar dari pengungsian dan melihat rumahnya yang sudah rata dengan tanah. “Tadi anak saya minta ditemani keluar (pengungsian), tapi saya tidak mau. Saya trauma. Pokoknya, saya tidak mau melihat lagi,” katanya lirih.

Saat kejadian, Rohmah selamat setelah terus didekap suaminya, Dahroni, sehingga tidak terseret arus air yang datang dengan kecepatan tinggi. Tidak hanya Rohmah. Nila Mandariani, anaknya, juga selamat setelah dipanggul Dahroni. “Tangan kanan memegang istri, anak saya di atas (dipanggul, Red),” kata Dahroni.

Pria 53 tahun itu menceritakan, rumahnya terletak tidak jauh dari gedung UMJ. Tepatnya di belakang gedung TK yang ada di sebelah selatan gedung rektorat UMJ. Ketiganya selamat setelah menggapai atap gedung perpustakaan UMJ yang bersebelahan dengan gedung rektorat. “Saya jalan melawan arus di pagar,” kenang Dahroni.

Rumah Dahroni memang jauh lebih rendah dibanding gedung UMJ. Bahkan, menurut pengakuannya, saat gedung UMJ tergenang air sekitar dua meter, rumahnya bisa terendam hingga sepuluh meter.

Tidak hanya kehilangan tempat tinggal dan barang-barang, Dahroni mengaku kehilangan 13 anggota keluarga besarnya. Dua di antaranya belum ditemukan. Mereka di antaranya adik perempuan dengan dua anaknya, mertua, hingga besan orang tuanya. “Ada juga tiga orang yang kontrak. Mereka masih saudara juga,” terang Dahroni.

Dahroni, Rohmah, dan Nila kini masih bertahan di pengungsian. Mereka tidak tahu hendak ke mana pasca bencana. “Kami tidak ada tempat lagi,” katanya. Namun, Dahroni tidak terlalu larut dengan musibah yang menimpanya. Dia ikut membantu mengorganisasi kebutuhan tetangga-tetangganya sesama korban di pengungsian. “Saya menjadi penyambung RT di sini,” sambungnya.

Kehilangan anggota keluarga dalam jumlah banyak juga dialami Dali Ihsan. Security UMJ itu kehilangan tujuh anggota keluarga, dua di antaranya masih hilang. “Yang masih hilang menantu namanya Wito dan keponakan, Maulana,” kata Dali. Nabila, satu keponakan Dali yang sempat hilang, ditemukan di sekitar Tanah Kusir, sekitar delapan kilometer dari lokasi kejadian. “Dia nyangkut di atas kandang ayam dan sudah meninggal,” katanya.

Dia bersyukur tidak terseret air dari Situ. Saat tahu air bah menerjang, dia langsung lari menuju Fakultas Hukum UMJ yang kini menjadi tempatnya berteduh. “Kalau ingat itu, saya nggak kuat. Tapi, bisa menyelamatkan anak saya, sudah bersyukur,” katanya.

Dali yang bekerja di UMJ sejak 1996 memang patut bersedih. Sebenarnya dia bisa menyelamatkan Aisyah, kakaknya, menuju ke tempat yang lebih tinggi. Namun, karena mengira air yang datang hanya banjir biasa, sang kakak memutuskan masuk lagi ke dalam rumah dan menyelamatkan surat-surat. “Padahal, dia sudah keluar rumah. Akhirnya dia terseret,” katanya dengan mata berkaca.

Banjir memang sudah sering dialami Dali dan keluarga. Tidak heran jika saat air menerjang Jumat pagi, keluarganya mengira itu banjir biasa. “Ternyata tanggulnya jebol. Sekarang orang tua saya tidak mau tinggal di situ lagi,” katanya.

Duka mendalam juga dialami Abdul Hamid. Pria 50 tahun itu kemarin hanya duduk termenung menyaksikan warga lain membersihkan sisa-sisa puing akibat hantaman air bah Situ Gintung. Tatapan matanya kosong. Dia duduk di atas kursi yang tersisa di lantai dua rumahnya yang sudah tak beratap.

Akibat petaka Jumat subuh itu, Hamid, warga RT 004/08 Kampung Gintung, Cirendeu, Ciputat, kehilangan tujuh anggota keluarga. Yakni, kakak, ipar, dan cucu kesayangannya.

“Waktu air bah datang, saya baru selesai salat Subuh. Lalu saya berteriak ngasih tahu anggota keluarga lain, kalau tanggul jebol. Saya langsung berlari ke lantai dua diikuti istri. Setelah itu, dengan cepat air bertambah tinggi dan memorakporandakan rumah saya,” katanya.

Duka juga masih menyelimuti Supiadi, 36. Istri tercintanya ditemukan tewas, sedangkan anak semata wayang yang baru merayakan hari ulang tahun ketujuh, hingga kini masih hilang.

Raut sedih terus terlihat di wajah pria beranak satu itu. Supiadi terlihat duduk bertopang dagu di Aula STIE Ahmad Dahlan sambil berharap-harap cemas dan berharap anaknya, Kristian, dapat ditemukan.

Supiadi langsung bergegas mendatangi petugas yang membawa jenazah yang baru ditemukan. Air hujan yang mengguyur tak lagi dihiraukan. Tekadnya cuma satu, menemukan buah hatinya yang kini belum diketahui kondisinya.

“Kamis (26/3) malam sebelum kejadian, anak saya baru ulang tahun ketujuh. Tidak tahu musibah terjadi dan anak saya hilang. Apalagi ini ulang tahunnya yang terakhir,” ujarnya sedih.

Supiadi mengenang, saat merayakan ulang tahun, anaknya yang duduk di kelas IV SD I Ciputat itu meminta didoakan agar sukses sekolah. Bahkan, anak semata wayang itu sempat mengerjakan pelajaran dan menyiapkan perlengkapan sekolah untuk esok harinya.

Namun, pagi itu air bah menghantam tempat tinggalnya. Supiadi bahkan tak sempat menyelamatkan dirinya, anaknya dan Wamidah, istrinya. Dia sempat terseret arus dan ditemukan petugas terdampar di semak-semak ratusan meter dari tempat tinggalnya. “Saya tidak tahu terdampar di mana, karena ditolong petugas terus dibawa ke posko,” katanya mengenang. (dilengkapi laporan Tangsel Pos/jpnn/nw)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: