KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Naif Menyebut Bencana Alam (Opini)

Posted by Administrator pada Maret 30, 2009

[ Jawa Pos, Senin, 30 Maret 2009 ]
”Tsunami kecil” Jumat dini hari lalu (27/30) di Tangerang Selatan adalah musibah alam. Maka, kalau hingga Minggu sore kemarin (29/3) sudah 94 orang yang ditemukan tewas dan 105 orang masih hilang, itu adalah takdir.

Ajal mereka sudah digariskan Yang Di Atas bahwa mereka ditakdirkan meninggal karena terseret air bah bercampur lumpur hasil murka tanggul jebol Situ Gintung.

Karena sudah takdir dan banjir besar yang dimuntahkan Situ Gintung itu bencana alam, tak banyak pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban hukum. Bakal tidak ada pihak yang salah. Bakal tidak ada orang yang dengan kewenangannya harus berurusan dengan hukum.

Kalau benar demikian -musibah itu karena bencana alam yang tidak terduga alias tiba-tiba-, mengapa negeri ini begitu gampang terkena musibah? Mengapa Tuhan itu tidak adil dengan memberikan banyak musibah alam kepada negeri dan bangsa Indonesia?

Sebelum tanggul Situ Gintung jebol, sejak Desember 2008 hingga Maret ini (empat bulan) lebih dari 200 orang tewas akibat banjir dan longsor. Kalau 200 lebih warga Indonesia yang tewas akibat banjir, longsor, dan tanggul jebol itu semua akibat bencana alam yang tidak terkirakan, itu kian menambah keengganan kita introspeksi.

Dengan kata lain, ke depan terhadap ancaman banjir, longsor, atau tanggul jebol tidak bakal ada sikap untuk memperbaiki diri. Tidak bakal ada apa yang di Jepang dan Korea -karena dua negeri ini sering mengalami ancaman bencana seperti kita- disebut sebagai sikap konsolidasi sosial.

Sikap konsolidasi ialah ikhtiar untuk terus-menerus berubah memperbaiki diri menjadi lebih baik dan sigap menghadapi ancaman bencana agar kerugian dan kemungkinan korban dapat diperkecil.

Coba kita simak ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla mengunjungi lokasi musibah. SBY saat itu mengatakan, musibah air bah muntahan Situ Gintung karena tanggulnya jebol itu adalah bencana alam.

Pernyataan seperti itu merupakan preseden kurang bagus. Bukankah sangat banyak kalangan yang yakin bahwa tanggul jebol itu bukan karena semata-mata Situ Gintung harus menampung volumen air amat besar karena hujan deras yang mengguyur Tangerang dan sekitarnya beberapa saat sebelum tanggul itu jebol.

Sangat banyak yang yakin bahwa tanggul Situ Gintung jebol karena sudah uzur. Tanggul itu dibangun Belanda pada 1931. Meski banyak pula kalangan yang berpendapat bahwa kualitas bangunan tanggul itu masih layak tetap saja patut diragukan.

Mengapa? Sebab, dalam rentang usia yang sudah 78 tahun itu ekosistem dan lingkungan di sekitar Situ Gintung sudah berubah total. Misalnya, kemampuan daya serap tanah terhadap air sudah amat berkurang karena tata ruang yang makin padat sehingga kemampuan serapnya menjadi sangat kecil.

Mengapa, misalnya, bangunan yang terus tumbuh subur di daerah resapan air itu dibiarkan? Bukankah dengan pembiaran itu kian menambah beban Situ Gintung untuk menampung kucuran hujan dengan volume besar? Bukankah itu kian berat beban tanggul Situ Gintung yang sudah uzur?

Kalau seperti itu, apakah musibah Situ Gintung masih pantas dan tepat untuk disebut sebagai bencana alam? Ini harus menjadi pelajaran yang kali kesekian bagi siapa pun. Rasanya naif jika jebolnya tanggul itu hanya karena bencana alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: