KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Tak Temukan Mayat, Warga Mulai Bangun Rumah Sementara

Posted by Administrator pada Maret 31, 2009

[ Jawa Pos, Selasa, 31 Maret 2009 ]
Hari Ke-4 Bah Situ Gintung

TANGERANG – Meskipun masih mencatat ada 100 korban “tsunami” Situ Gintung yang belum ditemukan, pencarian korban tewas sepanjang Senin kemarin (30/3) tidak menemukan satu pun mayat. Gabungan aparat TNI, polisi, tim SAR, dan sukarelawan yang menyisir daerah bencana di wilayah Cirendeu, Tangerang Selatan, tidak membawa hasil. Pengerahan alat berat di lokasi sepanjang aliran bah juga nihil. Dengan demikian, total korban meninggal sampai pukul 19.30 tadi malam 98 orang dan korban hilang masih tetap 100 orang.

Rahmat Salam, koordinator posko tanggap bencana di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), mengatakan, sebelumnya posko UMJ sempat mencatat data korban meninggal mencapai 99 orang. Namun, jumlah itu dikoreksi karena ditemukan pencatatan ganda.

Meski tidak ada penambahan temuan jasad korban tewas, Rahmat menyatakan, pihaknya masih memprioritaskan pencarian korban meninggal. “Namun, kami juga meningkatkan perhatian kepada korban selamat dengan menyediakan empat posko. Pasokan makanan juga sudah lebih. Meski demikian, kita perhatikan untuk jangka waktu selanjutnya,” terangnya.

Hingga tadi malam, jumlah pengungsi sudah berangsur menurun hingga tinggal 368 orang. Sebelumnya mencapai 500 orang. Jumlah tersebut, sambung Rahmat, tersebar di empat lokasi penampungan.

Untuk kebutuhan air bersih, fasilitas di empat tempat pengungsian itu tidak mencukupi. Pantauan Tangsel Pos (Jawa Pos Group), air bersih tak tersedia di tempat pengungsi di fakultas hukum. Di dua kamar mandi tidak ada air bersih karena aliran listik yang mati. Untuk mandi, pengungsi harus pergi ke tempat tetangga atau musala sekitar.

Sebenarnya, pihak PDAM Tirta Raharja telah menurunkan empat unit mobil air bersih. Namun, banyak pengungsi yang mandi di rumah penduduk. Penerangan juga masih menggunakan genset. Hanya posko di Fakultas Kedokteran yang dialiri lampu listrik.

Mulai kemarin, 20 unit hunian sementara dibangun di dekat tanggul yang jebol. Tempat itu rencananya dihuni 55 kepala keluarga dengan pembagian satu unit dihuni tiga keluarga. Hunian menyerupai rumah dengan bahan dasar tripleks dan berlantaikan semen itu dibangun lengkap dengan dapur umum dan air bersih siap minum. “Rencananya satu unit tiga keluarga. Namun, itu semua bergantung pada jumlah keluarga. Yang penting, kita menyelamatkan para ibu dan anak-anak,” ujar Hendra, koordinator pembuat hunian sementara.

Sejumlah pengungsi memang mulai terlihat gelisah di Kampung Poncol (dekat tanggul yang jebol). Mereka mulai mencari lokasi untuk beristirahat. Sejumlah penghuni mengatakan sulit mencari lokasi yang aman untuk istirahat. “Tapi, mau bagaimana lagi? Saya harus tetap beristirahat dengan keadaan yang seperti ini,” ucap Resti, warga yang bermalam tiga hari di tenda pengungsian dekat tanggul jebol.

Bermalam di ruang terbuka juga membuat kesehatan para pengungsi menurun. Mereka mulai diserang berbagai penyakit, seperti diare, infeksi saluran pernapasan atas, dan demam tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang Hani Harianto menegaskan, kelompok pengungsi yang paling rawan terserang penyakit adalah bayi, balita, anak-anak, dan lanjut usia. “Anak-anak dan lansia sangat mudah terjangkit. Terutama bayi,” kata Hani kemarin.

Kondisi pengungsi yang mulai drop juga diantisipasi koordinator posko tanggap bencana UMJ. Rahmat mengatakan, selain pencarian korban dan pembersihan, hari ini mulai pukul 07.00 dilakukan proses fogging atau pengasapan untuk memberantas sarang nyamuk. “Kami akan menurunkan 300 personel dinas kesehatan dan dokter polisi,” terang Rahmat.

Selain itu, lanjut Rahmat, pada pukul 09.00 dilakukan konsultasi trauma bagi para korban. Konsultasi tersebut dilakukan oleh 20 konselor yang dikoordinasi Fakultas Kedokteran UMJ dan Departemen Kesehatan.

Para psikiatri ibu kota memperkirakan korban Situ Gitung rawan terkena stres dan depresi. Pasalnya, kejadian tragis itu dapat menyisakan kondisi traumatik dalam jangka panjang. Spesialis kesehatan jiwa dan konsultan RS Persahabatan Mardi Susanto mengatakan, ada dua kemungkinan dampak psikologis yang menghinggapi korban Situ Gintung. Yakni, stres pascatrauma dan stres akut. Stres pascatrauma, kata dia, merupakan kondisi yang timbul akibat peristiwa itu. Korban kerap mengalami flashback dan mengingat saat peristiwa itu berlangsung. (yuz/ard/son/luq/kit/rdl/fal/jpnn/kim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: