KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Hasil Quick Count : Pencapresan JK dan Mega Terancam?

Posted by Administrator pada April 9, 2009

Jumat, 10/04/2009 00:02 WIB

Muhammad Nur Hayid – detikPemilu

Jakarta – Keinginan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) untuk meninggalkan SBY dan maju sendiri sebagai capres harus dihitung ulang. Demikian juga dengan kesiapan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Hasil perolehan suara partai-partai peserta pemilu berdasarkan quick count harus menjadi pertimbangan bagi kedua partai besar ini. Selain itu, perolehan suara kedua partai yang di bawah 20 persen sesuai hitungan cepat beberapa lembaga survei juga memberatkan keduanya untuk ngotot maju.

Sebagaimana yang ditetapkan dalam UU pilpres, untuk dapat mengajukan capres-cawapres, parpol harus memperoleh 20 persen suara di parlemen. Jika tidak, parpol harus menggalang koalisi. Perolehan Golkar dan PDIP yang diperkirakan hanya kisaran 15 persen akan menjadi beban tersendiri dalam pilpres 2009.

Masalahnya, dengan meningkatnya perolehan PD yang diyakini sebagai pengaruh dari figur SBY, masih adakah parpol kelas menengah seperti PKS, PKB, PAN, dan PPP yang mau mendampingi JK dan Mega?

Jawabannya, jika parpol menengah itu berhitung secara rasional, mereka akan membangun koalisi besar dengan PD untuk mengusung kembali SBY sebagai capres. Tetapi namanya politik, coba-coba dan gengsi juga masih bisa terjadi. Kalau hal ini yang dilakukan JK dan Mega, peluang keduanya untuk maju memang masih terbuka. 

Kemungkinan terbesar yang bisa terjadi di PDIP adalah Partai Gerindra akan merapat dengan kompensasi sebagai cawapres Mega. Atau sebaliknya Mega dengan legowo mundur dari pencapresan dengan mendorong Prabowo sebagai capres. Kompensasinya cawapresnya orang PDIP.

Sementara JK akan kesulitan mencari pasangan jika tetap ngotot maju. Alasannya selain perolehan Golkar yang turun drastis dari pemilu 2004, di bawah kepemiminan JK, Golkar gagal menunjukan keampuhannya sebagai partai pemenang.

Selain itu, penggalangan koalisi yang dilakukan JK ataupun Golkar masih sangat cair. Partai Gerindra yang memiliki figur kuat akan susah bergabung dengan Golkar karena partai ini lahir sebagai sempalan dari Golkar.

Sementara PPP kubu Suryadharma Ali yang sebelumnya menjalin komunikasi dengan Golkar dan JK tidak akan kuat membendung kubu PPP yang selama ini berada di balik SBY yang dimotori Bachtiar Chamzah. Sebabnya, Suryadharma gagal mempertahankan perolehan suara PPP sebagaimana pemilu 2004.

Lantas, apakah JK mau legowo mundur dari pencapresan dan kembali mendukung SBY, atau tetap nekat maju sebagai capres karena mempertahankan harga diri Golkar yang sudah deklarasi akan mengusung capres sendiri? Tunggu beberapa hari lagi jawabannya.

( yid / ndr )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: