KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Caleg-Caleg yang Kecewa setelah Suaranya Jeblok

Posted by Administrator pada April 12, 2009

[ Jawa Pos, Minggu, 12 April 2009 ]
Minta Kembalikan Uang hingga Ambil Lagi Televisi Sumbangan

Perilaku aneh para caleg yang gagal mulai bermunculan. Di Ternate, Maluku Utara, seorang caleg mengambil lagi televisi yang diberikan kepada warga. Di Agara, Nanggroe Aceh Darussalam, caleg meminta kembali uang yang telah diberikan.

PARA pemuda di lingkungan Falajawa II, Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan, berang. Gara-garanya, Hartati Theis, seorang caleg Partai Golkar, menarik kembali televisi yang telah diberikan kepada mereka setelah perolehan suaranya jeblok.

Hartati adalah caleg DPRD Kota Ternate. Beberapa waktu lalu, dia memberikan televisi kepada organisasi pemuda setempat. Oleh para pemuda, televisi itu ditaruh di pos kampung yang juga menjadi pangkalan ojek. Namun, sehari setelah pemilihan dan suara Hartati jeblok, televisi tersebut diambil kembali.

Keruan, para pemuda kampung itu mengamuk. Kemarin, mereka merusak pos dan pangkalan ojek tersebut. Mereka beralasan, tindakan itu merupakan bentuk protes terhadap ulah Hartati. ”Memang televisi itu diberikan caleg tersebut. Tapi, sebelumnya kan tidak ada perjanjian dengan kami atau pemuda di sini untuk memenangkan caleg itu,” ujar Irfan Hanafi, salah seorang pemuda di lingkungan tersebut.

Pada pencontrengan 9 April lalu, suara Hartati jeblok di kampung tersebut. Yakni, Tempat Pemungutan Suara (TPS) 05 Falajawa II. Caleg nomor urut 6 dari Partai Golkar itu hanya memperoleh tiga suara. Karena itu, Jumat (10/4), tim sukses Hartati mengambil kembali televisi yang telah diserahkan untuk umum tersebut.

Apa komentar Hartati? ”Yang ambil kembali (televisi itu, Red) tim sukses saya. Mereka kecewa karena saya cuma mendapat tiga suara,” jelasnya kepada wartawan di rumahnya, Falajawa II, kemarin.

Dia mengaku, memang tidak ada kesepakatan dengan para pemuda kampung tentang pencapaian suara. ”Sekalipun tidak ada kesepakatan, semestinya mereka mengerti. Kalau diberi bantuan, imbalannya apa?” ujarnya.

Dia menyatakan, tiga suara itu terlampau kecil. ”Cuma tiga itu sangat kecil. Pemuda di situ kan banyak,” ungkapnya.

Berbeda dari ulah caleg yang kalah dan kecewa di Agara, Nanggroe Aceh Darussalam. Caleg kalah ini mendatangi rumah-rumah warga dan meminta kembali uang yang telah diberikan. Sementara anggota tim sukses yang sebelumnya membagi-bagikan uang tersebut menghilang.

Karena kejadian itu, Asw, 42, melaporkan hal tersebut ke panwaslu setempat. Dia mengaku tidak tenang karena ditagih sang caleg agar mengembalikan uang. Dia bersama warga lainnya melapor ke panwaslu dan mengaku telah terjadi upaya penyogokan untuk memilih seseorang. ”Terserah panwaslu nanti mau membuat kasus ini sebagai money politics atau apa,” katanya.

Yang juga menakutkan warga, ada caleg yang mengancam menculik bila uang tersebut tak dikembalikan. Karena itu, sejumlah elemen masyarakat berharap Panwaslu Agara serta pihak terkait mengantisipasi hal-hal yang bisa mengganggu ketertiban umum tersebut.

Ketua Panwaslu Agara Sudirman mengaku menerima laporan adanya money politics dari warga di daerah pemilihan (dapil) Agara II. ”Sudah diterima panwaslu dan akan dikaji. Kalau ternyata ada unsur politik uangnya, akan diteruskan ke polisi,” tegasnya.

Kasus serupa terjadi di Sumatera Utara. Bahkan lebih parah. Sebab, pelakunya adalah lurah. Ceritanya, Lurah Tanah Seribu, Binjai Selatan, Darsin mengumpulkan seluruh kepala lingkungan di wilayahnya dan membagi-bagikan uang.

Imbalannya, para kepala lingkungan harus mengerahkan warganya untuk memilih caleg Partai Golkar nomor urut dua. Targetnya, di tiap TPS di wilayah itu, caleg tersebut mampu meraih 20 persen suara.

Namun, setelah suara yang diinginkan meleset, sang lurah memanggil seluruh kepala lingkungan dan meminta agar uang dikembalikan. Setelah uang dikembalikan, ratusan warga mendatangi kantor kelurahan dan menuntut sang lurah dicopot. Para kepala lingkungan juga mengancam mundur.

”Kita mana bisa memaksa warga agar memilih caleg pesanan pak lurah? Apalagi, warga sendiri nggak kenal caleg itu. Lurah menekan kami. Makanya, daripada ditekan, lebih baik kami mengundurkan diri,” tegas Kepala Lingkungan IV Syahrial.

Kepala Lingkungan I Adi Timbul mengaku, dirinya menerima uang Rp 3 juta untuk tiga TPS. ”Sebab, di lingkunganku ada tiga TPS. Uang yang aku terima sebagian sudah terpakai karena ada beberapa warga yang memilih caleg yang dipesan pak lurah,” ungkapnya.

Lurah Darsin saat dikonfirmasi membantah telah memberikan uang kepada kepala lingkungan.(jpnn/nw)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: