KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Yang Keok dan Yang Menang

Posted by Administrator pada April 12, 2009

[ Jawa Pos, Sabtu, 11 April 2009 ]
Oleh Budi Darma*

ADA pemimpin yang dicintai, ada pemimpin yang tidak disukai, dan ada pula pemimpin yang dibenci. Pemimpin yang dicintai biasanya didukung oleh rakyat, pemimpin yang tidak disukai kata-katanya terpaksa diterima oleh rakyat karena rakyat tidak mempunyai pilihan lain, dan pemimpin yang dibenci mungkin saja tetap berkuasa, namun makin dibenci, atau mungkin pula diberontak atau dimakzulkan.

Kendati zaman terus berubah, dari sejarah sebetulnya kita bisa mengetahui, apa dan siapa sebetulnya pemimpin yang dicintai, tidak disukai, dan dibenci itu. Pemilu, sementara itu, pada hakikatnya adalah proses untuk mencari pemimpin tertinggi. Karena pemilu akan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi, pasti pemilu diikuti oleh orang-orang yang merasa berhak dan mampu menjadi pemimpin tertinggi. Orang-orang yang merasa berhak dan mampu pasti mempunyai pendukung, dan karena itu, orang-orang ini pada dasarnya adalah pemimpin pula bagi para pendukungnya masing-masing.

Siapakah yang akhirnya akan menjadi pemimpin tertinggi, tampaknya, bisa kita pelajari dari sejarah kepemimpinan. Siapa yang akan keok dan siapa yang akan menang tergantung pada rakyat, dan rakyat tampaknya sudah mempunyai naluri. Naluri ini pada hakikatnya tidak bisa ditaklukkan oleh berbagai godaan, misalnya uang sogokan dan kampanye dalam berbagai bentuk, antara lain, iklan dan janji-janji muluk, serta pembunuhan karakter.

Boleh-boleh saja rakyat disogok dan dengan girang menerima sogokan itu. Namun, bila waktu memilih telah tiba, yang akan menentukan bukanlah uang sogokan itu, tapi naluri itu sendiri. Boleh-boleh saja mereka yang merasa berhak dan mampu menjadi pemimpin tertinggi memuji-muji diri sendiri dan mengolok-olok orang lain. Namun, apabila waktu untuk memilih telah tiba, semua pujian terhadap diri sendiri dan olok-olok kepada orang lain itu tidak akan jalan. Kehebatan iklan, kemeriahan kampanye, dan segala tetek bengek lainnya tidak mungkin mengalahkan naluri rakyat.

Dengan nalurilah, rakyat akan menentukan siapa di antara pemimpin-pemimpin itu yang sekiranya paling layak menjadi pemimpin tertinggi. Yang paling layak, mau tidak mau, adalah pemimpin yang menurut perkiraan naluri akan mejadi pemimpin yang layak dicintai. Dialah yang akan menjadi pemenang.

Kendati zaman terus berkembang dan keadaan terus berubah, pada hakikatnya naluri rakyat tidak pernah berubah, tetapi, tetap berpegang pada pakem yang sama. Pakem itu tidak ditentukan oleh rakyat, namun oleh perilaku para pemimpin itu sendiri yang merasa berhak dan mampu menjadi pemenang. Karena itu, apabila ada pemimpin keok, pada hakikatnya dia keok karena perilakunya sendiri, bukan karena rakyat menginginkan dia keok.

Dari sejarah dapat ditarik kesimpulan bahwa pakem pemimpin yang layak keok adalah sebagai berikut:

a). Suka memuji-muji dirinya sendiri dan mengolok-olok orang lain

b). Suka membuat pernyataan-pernyataan kasar. Betapa pun pandainya pemimpin itu, apa bila pernyataan-pernyataannya kasar, dapat dipastikan bahwa dia akan masuk kotak

c). Suka membuat resah, dan karena itu rakyat terus-menerus merasa takut dan cemas

d). Suka mempergunakan bahasa tubuh yang sifatnya melecehkan orang lain, misalnya bibir mencep, kepala, leher, dan bahu bergoyang-goyang, serta sorot wajah yang menebarkan rasa percaya diri yang berlebihan dengan jalan memandang rendah orang-orang lain

e). Suka menebarkan kebencian sehingga rakyat merasa diadu domba

f). Suka mempertahankan kedudukan dengan jalan menciptakan situasi seolah-olah dirinya sendiri adalah indispensible. Sikap orang semacam ini merupakan manifestasi dari kata-kata ”tanpa aku, tak mungkin jalan, hanya akulah yang bisa.”

g). Suka mengabaikan sejarah kegagalan para tokoh. Napoleon, misalnya, setelah dikucilkan ke Pulau Elba karena dibenci, berusaha kembali ke Prancis untuk berkuasa kembali. Di sini ungkapan ”sekali berarti sesudah itu mati” benar-benar berlaku. Napoleon berhasil kembali ke Prancis, untuk sementara berhasil menjadi pemimpin lagi, tapi karena rakyat sudah tidak suka dia lagi, dia jatuh. Pemimpin yang karena perilakunya sendiri pernah gagal menjadi pemimpin, dapat dipastikan akan keok apabila dia tetap mengagung-agungkan ambisinya kembali untuk menjadi pemenang.

Itulah gambaran pemimpin-pemimpin keok, setidaknya apabila pakem yang telah ditunjukkan oleh sejarah tetap berlaku.

Kalau ada pakem bagi mereka yang keok, pasti ada pula pakem bagi yang menang. Seperti halnya pakem bagi mereka yang keok, pakem bagi yang menang pun sebetulnya dapat disimak dari sejarah. Hakikat pakem bagi pemenang, dengan sendirinya, adalah kebalikan pakem bagi mereka yang keok.

Kendati semua pakem itu dapat ditengok dari sejarah, kadang-kadang perlu pula dipertanyakan siapa sebenarnya pencipta sejarah itu. Apakah, misalnya, sejarah diciptakan oleh tokoh-tokoh tertentu, ataukan justru sejarahlah yang menciptakan tokoh. Kalau filsafat Carlyle betul, maka tokohlah sebetulnya yang menciptakan sejarah. Bung Karno, dengan demikian, adalah pencipta sejarah kemerdekaan Indonesia. Tanpa Bung Karno, Indonesia tidak mungkin merdeka.

Tetapi, apabila filsafat Carlyle dianggap tidak benar, maka sejarahlah sebetulnya yang telah menciptakan Bung Karno menjadi tokoh. Dengan demikian, seandainya tidak ada kolonialisme, tidak mungkin ada Bung Karno. Pandangan posmo sementara itu menganggap, pencipta sejarah adalah massa, dan tokoh dalam pengertian yang sesungguhnya tidak ada, karena pada hakikatnya setiap orang adalah tokoh.

Lepas dari siapa pencipta sejarah itu sebenarnya, pakem bagi mereka yang keok dan pakem bagi pemenang tampaknya tetap berlaku.

*) Budi Darma, sastrawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: