KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

SBY-JK Masihkah Berlanjut? (Opini)

Posted by Administrator pada April 16, 2009

[ Jawa Pos, Kamis, 16 April 2009 ]
Oleh M. Alfan Alfian

BERDASARKAN setidaknya hasil perhitungan cepat atas hasil Pemilu 9 April 2009, diketahui Partai Demokrat (PD) sangat berkelimpahan suara ketimbang PDIP dan Golkar. Ini menyebabkan posisi Jusuf Kalla (JK), sang ketua umum Partai Golkar terpojok. Angan-angan akan hadirnya Blok J (JK) untuk menginterupsi Blok M (Megawati Soakarnoputri) dan Blok S (Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY) bisa tinggal kenangan. Sejarah masa depan JK, bagaimanapun terikat dengan variabel kekalahan Partai Golkar kali ini. Tapi, akankah SBY-JK berlanjut?

Di atas kertas, SBY-JK diakui masih tinggi elektabilitasnya. Tetapi, bukan faktor JK yang membuat tinggi, melainkan faktor SBY. Kemenangan Partai Demokrat menegaskan bahwa popularitas SBY sangat signifikan. Karena itu, tanpa JK pun, diperkirakan SBY mudah melenggang ke istana kembali.

Kemenangan PD membuat SBY jauh lebih leluasa dalam mencari sang pendamping yang dirasakan lebih memiliki chemistry, kalaupun itu bukan lagi JK. SBY tentu terus mengevaluasi hubungan politiknya dengan JK. Bukan hanya itu, SBY juga makin leluasa menentukan komposisi kabinet apabila terpilih kembali sebagai presiden.

Kimia politik SBY-JK memang unik sejak awal. SBY merupakan sosok yang dikenal ekstrahati-hati. Dia penuh pertimbangan dalam memutuskan kebijakan strategis. Tetapi, JK terkesan lebih cepat dalam bertindak. Maka, kemudian dikesankan JK bisa lebih cepat dan lebih baik ketimbang SBY. Kalau SBY dan JK yang mestinya saling menopang dan memperkuat, justru bersaing keras di Pemilu Legislatif 2009, bagaimana jadinya kalau kemudian bersatu kembali. Bukankah pihak SBY sudah banyak kerepotan menghadapi manuver dan gerak politik JK?

SBY sendiri berkali-kali mengatakan politik bukan matematika. Tafsir atas kalimat ini belumlah terjawab. Ada yang mengatakan kalimat itu merupakan semacam mantra atau sinyal untuk menggandeng lagi JK. Sebab, meskipun JK sudah menegasikan SBY, toh SBY merasa masih membutuhkannya.

Namun, kalimat itu juga bisa ditafsirkan sebaliknya: SBY masih butuh Golkar, tetapi tanpa JK lagi. Secara matematika, Golkar masih dibutuhkan kubu SBY, untuk menciptakan stabilitas politik parlemen. Tetapi, membutuhkan Golkar bukan berarti menjamin SBY-JK kembali berpasangan.

JK punya problem serius di partainya. Dia ketua umum, dan apa pun penyebab kekalahan Golkar, JK tak bisa lepas tanggung jawab. Karena itu, pasca-pemilu legislatif, JK punya problem internal yang sangat serius.

Di sisi lain JK punya problem yang terkait dengan fatsoen politik, apabila kenyataannya begitu cepat merapat kembali ke SBY, setelah sebelumnya berhadap-hadapan di mana JK merasa bisa lebih cepat dan baik ketimbang SBY kalau JK-Golkar mengendalikan pemerintahan.

Betapapun demikian, pintu peluang bagi JK tak tertutup sama sekali untuk digandeng lagi oleh SBY. Kalangan pro-SBY-JK sangat gencar mendorong wacana ini. Tetapi, mereka sangat bergantung bukan oleh JK, tetapi oleh keputusan politik SBY. JK sendiri telah mendatangi SBY di kediamannya di Cikeas (13/4). Tetapi, sejauh ini belum ada keterangan yang meyakinkan bahwa SBY menerima kembali JK sebagai pasangannya. Justru kesannya SBY masih membiarkan menggantung nasib JK.

Misteri Cawapres SBY

Kalau tanpa JK, SBY bisa dengan siapa? Nah, dalam konteks ini muncul dua asumsi pokok. Pertama, SBY tetap menggandeng sosok dari partai politik, bisa dengan Golkar atau yang lain. Kalau dengan Golkar, yang harus dicari adalah sosok yang masih punya pengaruh nyata di dalamnya. Dalam hal ini ketemulah sosok Akbar Tandjung (AT). AT berposisi istimewa di Golkar saa ini, justru karena dia di luar struktural. Dia tidak dapat dituntut bertanggung jawab atas kekalahan Golkar.

Memang, sangat disayangkan mengapa pasca-Munas Bali, AT disingkirkan sama sekali. Tetapi, publik Golkar masih menempatkan AT sebagai hero partai. Mereka mulai membandingkan betapa kelas politik JK jauh di bawah AT. Kalau SBY mengambil AT, peluang untuk menaklukkan Golkar sangat terbuka.

Kalaupun bukan Golkar yang diambil, SBY juga dapat mempertimbangkan tokoh-tokoh dari partai lain. Yang paling mengemuka, misalnya, Hidayat Nurwahid (HNW) dari PKS atau Hatta Radjasa (PAN). Tetapi, kemenangan Partai Demokrat yang luar biasa membuat daya tawar partai-partai lain tidak optimal lagi. Bahwa tanpa tambahan dukungan partai lain pun, SBY sudah mendapat tiket ke pilpres.

PKS tak makin leluasa mendesakkan sejumlah nama cawapres ke SBY, entah nama itu HNW sendiri, Anies Matta, Chairul Tandjung, atau Sri Mulyani. Walaupun demikian, PKS masih bisa bernegosiasi ke konteks menteri kabinet. Sementara itu, peluang Hatta Radjasa tampak paralel dengan perolehan suara PAN yang kurang begitu signifikan.

Asumsi kedua, SBY akan menggandeng tokoh nonparpol. SBY bisa saja berspekulasi menggandeng Sri Mulyani atau sosok non-parpol lain. Tetapi, lima tahun ke depan, kelihatannya SBY masih membutuhkan sosok politisi, bukan teknokrat-sipil. Mengapa demikian? Politisi dibutuhkan untuk mengatasi dinamika konfliktual politik DPR. Ingat, musuh-musuh politik SBY tampak akan makin variatif pasca-Pemilu 9 April.

Dua partai politik yang dikendalikan politisi berlatar belakang militer, yakni Gerindra dan Hanura, yang diperkirakan lolos aturan parliementary threshold (PT), sangat mungkin memilih beroposisi. Baik Wiranto maupun Prabowo telah menemui Megawati baru-baru ini menjajaki kemungkinan kerja sama koalisi melawan SBY.

Dari sisi kuantitas, kekuatan politik di parlemen bisa seimbang. Tetapi, dari sisi kualitas ,berbagai kebijakan pemerintah akan makin gencar yang menjadi sasaran tembak.

Dalam kondisi seperti itu, teknokrat-sipil diperkirakan tak akan mampu mengatasi kemelut politik DPR-Pemerintah secara efektif. Tidak demikian apabila yang dipilih untuk mengatasi hal demikian adalah politisi yang memiliki kecakapan dalam berkomunikasi politik. SBY terlihat semakin butuh sosok yang tidak banyak merepotkan. ***

* M. Alfan Alfian, dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: