KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Tur Haryanto, Caleg Tunanetra yang Lolos Jadi Anggota Dewan di Bantul

Posted by Administrator pada April 16, 2009

[ Jawa Pos, Kamis, 16 April 2009 ]
Kampanye dari Pintu ke Pintu dengan 54 Sukarelawan

Jika selama ini kaum difabel selalu diremehkan di dunia politik, tidak demikian halnya pada Pemilu 2009 dan seterusnya. Sebab, keputusan MK tentang suara terbanyak ternyata membawa angin segar bagi kaum difabel. Salah satu di antara mereka adalah Tur Haryanto, caleg tunanetra nomor urut 7 dapil 5 dari DPD PAN Bantul.

AHMAD RIYADI, Bantul

Rumah Tur Haryanto, caleg tunanetra dari PAN itu, begitu sederhana. Rumah di RT 1 Kelurahan Gadingharjo, Sanden, Bantul, tersebut terbuat dari batu bata yang belum dicat dan juga belum diberi pintu. Saat Radar Jogja (Jawa Pos Group) datang ke sana, terlihat tiga orang yang sedang bercanda duduk di lantai.

Gus Tur -begitu dia dipanggil- adalah caleg nomor urut 7 dapil 5 untuk DPRD Bantul. Dengan senyuman yang ramah, Gus Tur langsung mengangkat tangan kanan yang sebelumnya diletakkan di atas paha dan mengajak berjabat tangan, kemudian mempersilakan Radar Jogja duduk lesehan di lantai yang terbuat dari keramik.

”Silakan duduk Mas, maaf tidak ada kursi,” kata Gus Tur sambil tangan kirinya mengambil air putih botol yang ada di kardus di samping kirinya.

Dia pun langsung mempersilakan minum air yang sudah diletakkan persis di depan Radar Jogja. Kemudian, pria kelahiran Bantul, 26 Agustus 1969, itu mengaku yakin akan lolos duduk di kursi DPRD Bantul. Keyakinaan tersebut didasarkan kepada perolehan suara yang dia raih, yakni 3.200 suara, dari total 15.920 suara yang diraih PAN di dapil itu.

”Di Kretek, saya mendapat 1.369 suara, jumlah suara nomor 1 di antara perolehan suara parpol yang lain. Sedangkan di Sanden, suara saya menduduki peringkat ke-3 dan di Srandakan saya peringkat ke-2,” paparnya.

Gus Tur pun tak keberatan ketika diminta menceritakan strategi kampanye yang dia lakukan selama kampanye terbuka. ”Bukannya saya sombong atau karena apa-apa, tapi bagi saya, kampanye terbuka tidak efektif untuk menarik simpati masyarakat,” jelas alumnus Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram Jogja itu.

Gus Tur mengaku memiliki 54 orang tim relawan yang membantu berkampanye. Tim relawan tersebut dia bentuk berdasar asas kerelaan, dalam arti, tim itu tidak dibayar, namun justru sering nombok. Menurut Gus Tur, strategi yang dia rencanakan sangat simple dan ringan, yakni menggandeng orang yang selama ini dikenal baik dan loyal kepada dirinya.

”Saya fokuskan menggarap pemilih yang ada di 18 kelurahan dapil 5, yakni Kecamatan Kretek, Sanden, Pandak, Pundong, dan Srandakan,” ungkap suami Urip Kustikawati itu.

Bapak seorang putra tersebut mengaku sama sekali tidak membuat alat peraga kampanye apa pun seperti baliho, spanduk, poster, kartu nama, dan stiker. Dia hanya memiliki tim pemenangan yang terdiri atas tiga orang di setiap kelurahan. Menurut Gus Tur, tim relawan itu mendatangi rumah-rumah warga sambil menjelaskan bahwa Gus Tur mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Bantul dapil 5.

”Pemilu tahun ini, Gus Tur nyaleg dari PAN lho. Kalau njenengan mau ikut Gus Tur, maka bisa memilih Gus Tur,” sahut Sarjono, salah seorang tim relawan yang berada di sampingnya.

Setelah berhasil mendatangi satu per satu warga, tim relawan itu menemui Gus Tur untuk membicarakan kapan pertemuan antara warga dan dirinya digelar.

Pertemuan tersebut selalu digelar di rumah warga setempat. ”Konsumsinya, kadang keluarga saya yang menyediakan, kadang juga tim relawan saya,” jelasnya.

Gus Tur mengaku tidak menyiapkan dana khusus untuk kampanye. Dana yang dia gunakan sepenuhnya dari sponsor, yakni lima orang yang masih kerabatnya sendiri, seperti saudara kandung dan pamannya. ”Saya tidak tahu persis, kira-kira, paling banyak Rp 50 juta,” ungkapnya.

Gus Tur menambahkan, meski tidak memiliki visi, misi, dan program yang jelas, dalam setiap pertemuan dengan warga, dirinya selalu mengatakan akan menampung, menyerap, dan menyalurkan aspirasi warga yang ada di dapil 5 kepada pemkab dan anggota DPRD Bantul.

”Saya tidak pernah berjanji apa-apa kepada warga. Sebab, tugas dan fungsi dewan kan hanya mengawasi, legislasi, dan penganggaran. Soal program pembangunan daerah, itu bukan tugas dewan,” terang Gus Tur.

Meski demikian, lanjutnya, dia akan tetap berusaha memperjuangkan aspirasi rakyat, terutama warga yang ada di dapil 5, serta aspirasi kaum difabel yang ada di Bantul. Salah satu yang akan diperjuangkan adalah sarana dan prasarana bagi kaum difabel. ”Terutama yang ada di layanan umum seperti bank, kantor pemda, dan rumah sakit,” jelasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: