KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Untuk Muluskan Duet SBY-JK, Golkar Jinakkan DPD-DPD

Posted by Administrator pada April 16, 2009

[ Jawa Pos, Rabu, 15 April 2009 ]
JAKARTA – Benarkah pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Jusuf Kalla (JK) Senin malam (13/4) sudah memastikan bahwa keduanya bakal berduet lagi pada pilpres 8 Juli mendatang? Jawabannya hanya Tuhan dan dua tokoh penting itu yang tahu. Sebab, hingga kemarin mereka masih merahasiakan isi perbincangan selama 40 menit di Cikeas, kediaman SBY, tersebut.

Kemarin (14/4), saat berjalan dari Istana Negara ke Kantor Presiden, Presiden SBY ditanya wartawan tentang materi perbincangannya dengan JK tersebut. ”Tidak luar biasa, tidak luar biasa,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut SBY, pertemuan dirinya dengan JK merupakan sesuatu yang lumrah, sehingga tidak perlu direspons berlebihan. ”Semalam hanya omong-omong biasa. Pertemuan biasa saja,” katanya lantas berlalu menuju Kantor Presiden untuk memimpin rapat kabinet. Dalam rapat kabinet yang diikuti seluruh menteri itu, SBY dan JK kembali duduk di depan untuk memimpin rapat yang membahas persiapan penyusunan RAPBN 2010.

Ketua Departemen Sumber Daya Manusia (SDM) DPP Partai Demokrat Andi Mallarangeng menuturkan, pertemuan di Cikeas hanya empat mata antara SBY dengan JK. Karena itu, selain SBY dan JK, tidak ada yang mengetahui isi pembicaraan keduanya. ”Saya tidak ikut pertemuan. Pak SBY juga tidak menyampaikan. Jadi, tidak ada yang bisa saya sampaikan,” ungkapnya.

Ketika dikonfirmasi soal selentingan kabar yang menyebutkan bahwa pertemuan itu tidak happy ending, Andi membantah. Menurut dia, setelah pertemuan, keduanya terlihat biasa saja, tetap akrab dan tidak terlihat ada masalah. ”Sebenarnya pertemuan SBY dengan JK itu hal yang biasa,” tegasnya.

Mengenai kans koalisi antara Partai Golkar dengan Partai Demokrat, kata Andi, progress-nya cukup baik. Komunikasi politik terus dilakukan dan semakin intens. ”Ya, selama ini hubungan dengan Golkar selalu baik. Jadi, tidak mustahil untuk diteruskan,” katanya.

Bukan hanya Andi yang terkesan merahasiakan hasil pertemuan SBY dengan JK. Sejumlah petinggi DPP Partai Golkar juga tak menjawab jelas ketika ditanya wartawan.

”Saya bohong kalau tidak tahu apa yang dibicarakan ketua umum (JK) dan Pak SBY. Namun, saya tidak boleh memberi tahu karena ini lobi politik untuk menjaga positioning partai sekarang,” tegas Ketua DPP Partai Golkar Syamsul Muarif di Kantor DPP Partai Golkar, Jalan Anggrek Nelly Murni, Jakarta Barat, kemarin (14/4).

Namun, seorang sumber membisikkan bahwa pertemuan empat mata tersebut juga membahas kondisi serta syarat yang diinginkan Partai Golkar bila ingin berkoalisi dengan Partai Demokrat. ”Golkar minta jatah wakil presiden dan tidak ada pengurangan jumlah kursi menteri serta pejabat tinggi negara di kabinet,” ujar sumber tersebut.

Saat ini, Golkar memiliki kursi wakil presiden dan empat kursi menteri. Yakni, Menko Kesra, menteri hukum dan HAM, menteri perindustrian, dan menteri PPN/kepala Bappenas. Golkar dikabarkan juga meminta sejumlah kursi komisaris BUMN serta duta besar.

Namun, ketika hal tersebut dikonfirmasikan kepada Wakil Sekjen Partai Golkar Rully Chairul Azwar, dia membantah. Rully menegaskan, pertemuan itu hanya membahas arah koalisi di parlemen dan pemerintahan. ”Kalau soal konsesi, itu baru akan dibahas kalau koalisi memang sudah pasti akan dilakukan,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, Golkar belum membahas kepastian koalisi dengan Demokrat, meski DPP Partai Golkar cenderung kembali berkoalisi dengan kubu Demokrat dibanding dengan kubu PDI Perjuangan. ”Kalau sudah ada mandat dari rapimnasus, baru bisa diketahui ke kubu mana Golkar akan berkoalisi atau bahkan tetap akan mengusung calon presiden sendiri,” paparnya.

Di tempat terpisah, para elite di jajaran DPP Partai Golkar terus bergerilya secara politik menindaklanjuti pertemuan JK dengan SBY pada Senin malam lalu. Rencananya, besok (16/4) JK sebagai ketua umum DPP Partai Golkar mengadakan rapat konsultasi nasional. Sangat mungkin dalam forum itu dia akan membeberkan hasil pertemuannya dengan SBY. Soal rencana rapat konsultasi khusus itu dibenarkan Syamsul Muarif di kantornya kemarin.

Upaya lain yang juga akan dilakukan DPP adalah terus berusaha ”menjinakkan” desakan pengurus-pengurus DPD I yang masih bersikeras memajukan JK sebagai calon presiden. Hal itu bisa dimaklumi karena pencapresan JK merupakan keputusan Rapimnas Partai Golkar 2008.

Saat itu, rapimnas menegaskan bahwa Golkar hanya wajib mencalonkan kadernya sebagai calon presiden, meski diembel-embeli kata-kata ”bila menang pemilu legislatif”.

”Faktanya, Golkar tidak menang di pemilu legislatif. Jadi, logikanya, kini tidak wajib hukumnya bagi kader Golkar untuk maju sebagai calon presiden,” kata Syamsul.

Meski demikian, tegas Syamsul, bukan berarti keputusan partai tersebut menutup peluang kader Golkar untuk maju sebagai calon presiden. Karena itu, rapimnasus akan digelar untuk menentukan keputusan partai yang mengikat secara organisasi terhadap seluruh kader Golkar. ”Sebelum keputusan diambil, komunikasi politik tetap harus dilakukan,” terangnya.

Bila menuruti kepentingan politik partai, terang Syamsul, Partai Golkar seharusnya merapat ke kubu SBY yang lebih besar peluangnya untuk menang. Namun, bukan tidak mungkin Golkar akan bergabung dengan kubu Megawati dengan alasan yang sama kuatnya.

Golkar, kata Syamsul, mempertimbangkan kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan partai, yakni kepentingan bangsa dan negara. Bila Golkar bergabung dengan kekuatan oposisi yang menyebabkan kekuatan pemerintah kalah di parlemen, kepentingan negara dan rakyat terancam.

Sementara itu, tadi malam Kalla mengundang sejumlah pimpinan Golkar daerah. Sekitar pukul 20.00, dua ketua DPD I Partai Golkar yang dikenal dekat dengan Kalla datang ke Posko Slipi II di Jalan Ki Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka adalah Ketua DPD Golkar Sulawesi Selatan Ilham Arief Sirajuddin dan Ketua DPD Golkar Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh. Dalam pertemuan tersebut, Kalla didampingi Dubes RI untuk Rusia Hamid Awaluddin.

Tidak seperti biasanya, wartawan dihalang-halangi ketika akan mewawancarai kedua petinggi Golkar tersebut. Seorang staf Kalla mengatakan, bosnya meminta pertemuan tersebut tidak diliput. Ketika keduanya pulang sekitar pukul 21.00, mereka keluar dengan mobil sehingga tidak bisa di-doorstop wartawan.

Namun, diduga kedatangan kedua petinggi Golkar tersebut terkait rencana DPP Partai Golkar mengumpulkan 33 ketua DPD I se-Indonesia di Jakarta besok. Apalagi, kedua pimpinan Golkar itu termasuk di antara 32 ketua DPD I Partai Golkar yang mendaulat Kalla sebagai calon presiden dari Partai Golkar. (tom/noe/kum)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: