KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Nathan Verity, Warga Australia yang Tewas dalam Teror Bom di Jakarta

Posted by Administrator pada Juli 18, 2009

[ Jawa Pos, Sabtu, 18 Juli 2009 ]
Sosok Murah Senyum dan Mudah Bergaul, Teridentifikasi berkat SIM

Sebagian korban tewas maupun luka dalam tragedi teror bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta, adalah warga negara asing. Salah seorang di antara korban tewas adalah Nathan Verity, 38. Siapa dia?

KOLEGA dan teman-teman dekatnya menyebut businessman asal Perth, Aus­tralia, Nathan Verity sebagai sosok pria yang cinta keluarga. Jim Truscott, mantan tentara SAS (unit pasukan khusus AD Australia), menceritakan bah­wa selama ini Verity mengelola sebuah perusahaan konsultan sumber daya manusia (SDM) dan rekrutmen di Jakarta. Sebagai pimpinan Truscott Crisis Leaders, dirinya menjalin kerja sama dan kemitraan dengan Verity selama lima tahun.

Sebelumnya, Verity tinggal di Perth ber­sama istri, Vanessa, dan anak lelaki­nya yang berusia lima tahun, Chris. Dia baru berangkat ke Jakarta awal pe­kan ini. ”Kantor pusat perusahaannya memang di Perth. Dia ke Jakarta hanya demi pekerjaan. Rencananya, dia tinggal di Jakarta beberapa pekan dan kemudian kembali ke Perth,” tutur Trus­cott, seperti dikutip kantor berita AAP.

Truscott menyatakan tidak tahu bagaimana Verity meninggal. Tetapi, ma­yat­­nya ditemukan di antara reruntuhan yang meluluhlantakkan Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan bisnis Mega Kuningan, Jakarta, sekitar pu­kul 08.00 waktu setempat (pukul 09.00 waktu Perth). ”Dia dipastikan tewas akibat ledakan,” katanya.

Truscott menuturkan, Vanessa dan ayah Verity, Peter, sangat terpukul men­dengar berita kematian itu. ”Me­reka akan berangkat ke Jakarta malam ini (tadi malam, Red) dan berharap da­pat mengidentifikasi jenazah besok pagi (pagi ini, Red) dan kemudian mem­bawanya pulang,” ujarnya.

Peter Verity membenarkan rencana terbang ke Indonesia untuk mengidentifikasi jenazah anaknya. ”Mereka (polisi dan petugas forensik Indonesia) menemukan SIM (surat izin mengemudi) di tubuhnya. Itu memang (jenazah) dia,” katanya sambil berlinang air mata. Seluruh anggota keluarga telah berkumpul di rumah orang tua Verity di Perth.

Romilda Marinelli, tetangga Peter selama 24 tahun, menuturkan bahwa Verity selalu menemui dan berbicara dengan dirinya setiap berkunjung ke rumah orang tuanya. ”Saya bertemu kali terakhir sebelum Natal lalu, ketika dia pulang kerja. Kami sempat saling bersapa,” ceritanya. ”Dia anak baik saat sekolah. Setelah lulus, dia selalu bekerja di tempat yang jauh,” lanjutnya.

Tadi malam Truscott mengadakan se­buah acara penghormatan bagi kole­ga­­nya tersebut. Dia terkesan dengan pri­badi Verity. ”Selain banyak senyum dan mu­dah tertawa, dia orang yang besar hati,” kenang Truscott. ”Dia mudah berteman dengan siapa saja. Dia pasti cocok dengan lingkungan di Indonesia,” lanjutnya.

Perusahaan Truscott sering memanfaatkan jasa Verity sebagai konsultan. Me­nurut Truscott, mereka bertemu lewat acara bisnis di Jakarta sekitar 6-7 tahun lalu. Selanjutnya, keduanya berteman dekat.

Dia menuturkan, Verity jauh lebih pa­­ham dan tahu semua risiko yang ter­kait pekerjaan di Indonesia dan ne­gara-negara lain yang ada risiko terorisme. Faktanya, Verity akan menjelaskan dan membrifing perusahaan-perusahaan lain tentang apa yang harus dilakukan dalam situasi ini. ”Kami mendapat proyek penting sejak 1 September tahun lalu untuk mendukung sebuah perusahaan mul­tinasional besar dan dia menjadi bagian dari tim,” kata Truscott.

Verity, ucap dia, sukses menjalin bisnis di Jakarta. Dia dijadwalkan tinggal di sana 3-4 minggu sebelum kembali ke Perth. ”Di luar pekerjaannya, dia suka main golf. Tetapi, keluarga selalu menjadi prioritasnya,” terang Truscott. ”Vanessa terpukul atas kematiannya. Saya sudah menelepon dia begitu mendapat kabar dari Kedubes Australia di Jakarta,” sambungnya.

Verity bekerja sebagai praktisi di Truscott Crisis Leaders sebelum mendirikan perusahaan sendiri pada 2007. Perusahaannya mempekerjakan 50 kar­yawan. Dalam situsnya, perusahaan Ve­rity menyebut diri sebagai ”perusahaan pencari dan penyeleksi serta konsultan rekrutmen di Australia dan Indonesia”.

Mantan mahasiswa di the University of Western Australia dan Curtin University of Technology di Perth ini pernah bekerja sebagai client services manager di perusahaan konsultan Jakarta, yakni JDA Indonesia dan JDA Harsono. (AAP/dwi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: