KLIPING KORAN NASIONAL

Selalu Ada Yang Baru

Misterius, Tak Pernah Beri Tahu Tempat Tinggalnya

Posted by Administrator pada Juli 21, 2009

[ JawaPos, Selasa, 21 Juli 2009 ]
 
KLATEN – Nur Hasdi alias Nur Hasbi alias Nur Sahid, pria yang disebut-sebut sebagai pengebom di Hotel JW Marriott Jumat pekan lalu (17/7), dikenal sebagai sosok yang ramah. Dia menikah pada 2000 dan mempunyai dua anak.

Pada 2001, Hasdi memboyong istri dan anaknya ke Semarang. Namun, dia tidak pernah memberitahukan alamat tempat tinggalnya kepada keluarga. Itulah yang terkesan misterius.

Fakta-fakta tersebut diungkap Ny Siti Lestari. Ibu mertua Nur Hasdi itu kemarin (20/7) bertutur tentang menantunya tersebut ketika didatangi Radar Solo (Jawa Pos Group) di rumahnya, Desa Ngalas, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Perempuan 50 tahun itu adalah ibu kandung Dwi Prastiwi, 32. Dwi adalah istri Nur Hasdi. “Ayo, silakan masuk,” kata Siti dengan ramah di depan rumahnya yang sederhana. Wajahnya terkesan murung.

“Saya kepikiran berita yang menyebutkan Nur Sahid itu pelaku pengeboman. Saya tidak percaya itu,” katanya. Di keluarga Siti, Nur Hasdi dipanggil dengan sebutan Nur Sahid.

Siti lantas bercerita tentang menantunya itu. Di mata dia, sosok Nur Sahid lemah lembut, tidak pernah berkata kasar kepada siapa pun, termasuk kepada istrinya.

Nur Sahid, kata Siti, menikahi Dwi pada 2000. “Setelah menikah, dia (Nur Sahid) tinggal bersama kami, kira-kira setengah tahun,” ceritanya. Selama itu, tidak pernah ada gelagat yang menunjukkan bahwa Nur Sahid adalah anggota organisasi massa tertentu. “Sore dia sudah pulang dari kerja. Setelah itu ke masjid sampai Isya,” tambahnya.

Pada 2001, Nur memboyong istrinya ke Semarang. Mengapa pindah ke Semarang? Siti mengatakan, sampai sekarang dirinya tidak pernah tahu alasan pasti menantunya itu mengajak Dwi pindah ke Semarang. Siti juga menyatakan tidak pernah diberi tahu alamat tempat tinggal Nur di Semarang. “Kami berkomunikasinya dengan telepon,” lanjutnya, yang dibenarkan sang suami, Prasojo, 57.

Setiap kali menelepon, Siti mengatakan hanya berkomunikasi dengan Dwi, putrinya. Melalui hubungan telepon itulah, diketahui bahwa Nur dan Dwi dikaruniai dua anak.

Soal dugaan keterlibatan menantunya dengan kelompok teroris, Siti juga tidak percaya. Apalagi dia sudah menyaksikan tayangan hasil rekaman CCTV di Hotel JW Marriott yang menggambarkan sosok pria bertopi pembawa koper dan ransel yang dicurigai sebagai pengebom bernama Nur Hasdi alias Nur Sahid alias Nur Hasbi. “Melihat cara jalannya, pria itu bukan mantu saya. Saya hafal betul bagaimana dia berjalan,” tuturnya. Siti sesekali mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Hal yang sama disampaikan Gesang Bhekti Prayoga, adik kandung Dwi yang juga adik ipar Nur Sahid. Dia mengatakan tidak percaya bahwa kakak iparnya adalah pelaku bom bunuh diri di Marriott. Dia justru meminta polisi segera mengusut tuntas jati diri pengebom tersebut.

“Kalau ingin kepastian, tunggu saja dulu tes DNA keluarga kakak ipar saya. Jangan lantas membuat opini di media bahwa seolah-olah pelakunya Nur Sahid,” ujarnya.

Petugas dari Laboratorium Forensik Mabes Polri memang sedang berupaya untuk mencari kejelasan identitas pengebom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. Salah satu caranya adalah melakukan tes DNA terhadap potongan tubuh yang diduga sebagai pengebom, untuk selanjutnya dicocokkan dengan DNA milik keluarga Nur Hasdi. Tujuannya mengungkap apakah potongan kepala yang diduga sebagai pengebom itu benar-benar kepala Nur Hasdi.

Menurut Kepala Desa Ngalas Tri Setyo Nugroho, secara administrasi keluarga Nur Sahid memang masih terdaftar sebagai warga Desa Ngalas. Salah satu buktinya adalah kartu keluarga (KK) dengan nama Nur Sahid Abdurrahman belum dicabut. KK itu dibuat sebelum dia menjabat.

“Saya baru dua tahun terpilih. Jadi, belum pernah bertemu dengan Pak Nur Sahid. Tapi, nama keluarga tersebut masih tercatat sebagai warga di sini,,” ujarnya.

Di bagian lain, rumah kedua orang tua Nur Sahid di Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, kemarin siang tampak kosong, tak berpenghuni. Radar Semarang (Jawa Pos Group) yang datang ke sana tidak bisa menemui satu pun keluarga Nur Sahid di rumah tersebut.

Menurut Rosyid Ridho, pria yang mengaku sebagai sepupu Nur Sahid, Muhammad Nassir dan Tuminem (kedua orang tua Nur Sahid) pergi sejak pagi-pagi buta kemarin. “Tadi pagi (kemarin), sekitar pukul 05.30, sudah dibawa petugas. Katanya untuk tes DNA,” papar Rosyid.

Diceritakan, orang tua Nur Sahid itu dijemput petugas berpakaian preman dengan dua mobil. Namun, saat ditanya ke mana tujuan keluarganya dibawa pergi, dia menyatakan tidak tahu. “Tidak tahu, Mas, apa di polres, polda, atau ke Jakarta,” ucap pria yang juga teman masa kecil Nur Sahid tersebut. (oh/vie/jpnn/kum)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: